Regional

Bertahun-tahun Tak Tertangani, Warga Pangeraman Pamekasan Patungan Bangun Tebing Rawan Longsor

105
×

Bertahun-tahun Tak Tertangani, Warga Pangeraman Pamekasan Patungan Bangun Tebing Rawan Longsor

Sebarkan artikel ini

PAMEKASAN,HARIANNEWS.ID – Kondisi tebing yang rawan longsor di Dusun Seccang Bere’, Desa Pangeraman, Kecamatan Batumarmar, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, hingga kini masih menjadi perhatian masyarakat. Tebing tersebut berada di sekitar akses jalan yang digunakan warga untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Jumat, (4/9/2026).

Kondisi tebing yang telah berlangsung selama bertahun-tahun tersebut dikhawatirkan kembali mengalami longsor, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. Material longsoran berpotensi mengganggu akses dan membahayakan pengguna jalan yang melintas.

Karena belum adanya penanganan secara permanen, masyarakat setempat berinisiatif melakukan perbaikan tebing secara swadaya. Kegiatan tersebut diprakarsai oleh KH. Zaifuddin selaku ketua panitia pembangunan.

KH. Zaifuddin mengatakan, pembangunan dilakukan sebagai langkah antisipasi agar longsor tidak semakin parah dan berdampak terhadap akses jalan masyarakat.

“Kegiatan ini dilakukan agar kondisi tebing tidak sampai memakan korban dan jalan tidak rusak parah. Tebing ini berada di bawah sungai yang dibangun warga untuk mencegah jalan terdampak longsor. Ini merupakan akses masyarakat umum. Kalau sampai rusak, masyarakat akan kehilangan akses. Karena sudah bertahun-tahun belum ada kepastian penanganan, masyarakat akhirnya bergerak sendiri dengan dana swadaya,” ujar KH. Zaifuddin.

Menurutnya, kondisi tebing menjadi semakin rawan ketika hujan turun. Karena itu, masyarakat berupaya memperkuat tebing secara bertahap untuk mengurangi risiko longsor yang dapat berdampak terhadap badan jalan.

“Setiap kali hujan, tebing ini berpotensi longsor. Karena itu, pembangunan dilakukan secara swadaya agar kerusakan tidak semakin parah dan jalan tidak sampai rusak fatal,” katanya.

Pembangunan dilakukan secara gotong royong setiap hari Jumat. Pemilihan hari tersebut disesuaikan dengan aktivitas warga yang sebagian besar bekerja pada hari-hari lainnya.

Selain menggalang dana secara swadaya, masyarakat juga turut menyumbangkan tenaga dalam proses pembangunan. Bahkan, sebagian lahan milik warga terpaksa dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan perbaikan tebing.

“Kegiatan ini dikerjakan setiap hari Jumat secara gotong royong karena masyarakat memiliki kesibukan masing-masing. Jadi, pelaksanaannya kami pilih pada hari libur agar warga bisa ikut membantu,” jelas Zaifuddin.

Sementara itu, Sofi, salah seorang warga setempat, mengapresiasi kepedulian masyarakat yang secara bersama-sama berupaya memperbaiki kondisi tebing dan menjaga akses jalan.

“Ini langkah yang harus kami lakukan. Kami bersama masyarakat berusaha mencari dana agar jalan ini bisa kembali dilalui dengan baik. Saya merasa terharu melihat masyarakat mau bergotong royong membangun kembali tebing yang sudah lama belum mendapat penanganan,” kata Sofi.

Warga berharap pemerintah desa dan Pemerintah Kabupaten Pamekasan dapat memberikan perhatian terhadap kondisi tebing tersebut. Mereka juga berharap adanya kajian dan penanganan yang lebih permanen untuk mengurangi risiko longsor serta menjaga keamanan akses jalan masyarakat.

Upaya swadaya yang dilakukan warga menunjukkan kepedulian dan semangat gotong royong dalam menjaga fasilitas akses bersama. Namun, masyarakat menyadari bahwa penanganan secara swadaya memiliki keterbatasan, sehingga dukungan pemerintah tetap diperlukan, khususnya untuk penanganan tebing secara teknis dan berkelanjutan.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi dari pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Pamekasan terkait rencana penanganan tebing rawan longsor tersebut.

Tinggalkan Balasan