Regional

Madura Institute dan Yayasan H. Her Peduli Indonesia Salurkan 9 Tangki Air Bersih

28
×

Madura Institute dan Yayasan H. Her Peduli Indonesia Salurkan 9 Tangki Air Bersih

Sebarkan artikel ini

BANGKALAN, HARIANNEWS.ID – Madura Institute berkolaborasi dengan Yayasan H. Her Peduli Indonesia menyalurkan bantuan air bersih sebanyak sembilan tangki kepada masyarakat yang terdampak kekeringan di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Bantuan tersebut didistribusikan ke sembilan titik yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, khususnya di Kecamatan Sepulu dan Konang.

Penyaluran bantuan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang setiap tahun menghadapi persoalan kekeringan. Keterbatasan sumber air bersih tidak hanya menghambat aktivitas sehari-hari warga, tetapi juga berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar, seperti air untuk minum dan memasak.

Madura Institute merupakan wadah pengkajian yang berfokus pada perkembangan, persoalan, dan ketertinggalan di Pulau Madura. Sekitar enam bulan sebelumnya, lembaga tersebut telah melakukan kajian mengenai persoalan kekeringan yang berulang di sejumlah wilayah Madura.

Dalam kajiannya, Madura Institute menyoroti sejumlah faktor yang diduga berkontribusi terhadap krisis air bersih, di antaranya kondisi geografis, keterbatasan daerah resapan air, serta pola penanganan yang selama ini cenderung bersifat reaktif ketika kekeringan terjadi.

Ketua Madura Institute dalam paparannya menegaskan bahwa bantuan air bersih memiliki arti penting bagi masyarakat yang terdampak.

“Setiap tahun, sejumlah wilayah di Madura selalu mengalami kekeringan. Bagi masyarakat yang terdampak, setiap tetes air bersih yang datang menjadi harapan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.

Bantuan air bersih disalurkan ke sembilan titik di Kabupaten Bangkalan, terutama di wilayah Kecamatan Sepulu dan Konang yang mengalami dampak kekeringan cukup parah.

Kehadiran bantuan tersebut disambut antusias oleh masyarakat. Air bersih yang disalurkan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga, terutama untuk minum dan memasak.

Langkah ini diharapkan dapat membantu meringankan beban warga, khususnya masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih akibat terbatasnya sumber air selama musim kemarau.

Kolaborasi Madura Institute dan Yayasan H. Her Peduli Indonesia tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam membantu penanganan persoalan kekeringan.

Muhari AS, penggerak Madura Institute, menilai persoalan kekeringan di Madura tidak cukup ditangani melalui distribusi air bersih ketika masyarakat mulai mengalami krisis. Menurutnya, diperlukan langkah yang lebih terencana, terpadu, dan berkelanjutan agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap tahun.

Ia menegaskan bahwa bantuan sosial merupakan langkah penting untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat. Namun, upaya tersebut perlu disertai kebijakan jangka panjang yang menyasar akar persoalan, termasuk pembangunan infrastruktur penyediaan air bersih, pengelolaan sumber daya air, serta mitigasi kekeringan berbasis kondisi geografis dan lingkungan setempat.

“Persoalan kekeringan di Madura harus menjadi perhatian bersama. Kami berharap BNPB turun tangan dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan masyarakat terdampak kekeringan mendapatkan bantuan air bersih,” kata Muhari AS dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).

Menurutnya, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga terkait, dan elemen masyarakat sangat diperlukan agar penanganan kekeringan dapat dilakukan secara cepat sekaligus tepat sasaran.

Selain menyalurkan bantuan air bersih, Madura Institute juga melakukan kajian lebih mendalam mengenai kebutuhan infrastruktur permanen, mitigasi terpadu, kondisi geografis, faktor lingkungan, serta perbedaan antara penanganan darurat dan solusi jangka panjang.

Kajian tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pemangku kepentingan dalam merumuskan langkah penanganan kekeringan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Pembangunan sarana penyediaan air bersih, penguatan infrastruktur distribusi, perlindungan daerah resapan, serta pemetaan wilayah rawan kekeringan menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam perencanaan ke depan.

Madura Institute menilai bahwa penanganan kekeringan tidak seharusnya hanya berorientasi pada respons ketika krisis terjadi. Pemerintah perlu memperkuat langkah pencegahan dan kesiapsiagaan agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan air bersih setiap musim kemarau.

Melalui kolaborasi dengan Yayasan H. Her Peduli Indonesia, Madura Institute berharap kepedulian terhadap masyarakat terdampak kekeringan dapat terus diperluas.

Pada saat yang sama, dukungan pemerintah daerah dan pemerintah pusat diharapkan mampu mempercepat penanganan serta menghadirkan solusi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Madura.

Tinggalkan Balasan