Regional

Aracok Budhaja Blega, Merawat Ingatan Sejarah dan Menguatkan Kekompakan Masyarakat

177
×

Aracok Budhaja Blega, Merawat Ingatan Sejarah dan Menguatkan Kekompakan Masyarakat

Sebarkan artikel ini

BANGKALAN,HARIANNEWS.ID — Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, Madura, kembali menghidupkan ingatan kolektif tentang sejarah, kebudayaan, dan kesenian melalui Festival Aracok Budhaja: Taretan Paraten Budhaja, Lanceng Blega Kompak Sadhaja.

Kegiatan yang digelar oleh Ikatan Mahasiswa Blega (Ikamaga) tersebut berlangsung di Pelataran Alun-Alun Kecamatan Blega pada Sabtu (22/8/2026) mulai pukul 18.30 WIB. Kegiatan diikuti masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum.

Festival tersebut tidak hanya dikemas sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus merawat kebudayaan lokal yang tumbuh di tengah masyarakat Blega.

Blega memiliki perjalanan sejarah dan kebudayaan yang kuat dalam ingatan masyarakat setempat. Sejumlah cerita rakyat dan jejak sejarah, termasuk kisah Pangeran Blega dan Pangeran Macan Putih, menjadi bagian dari narasi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui Aracok Budhaja, Ikamaga berupaya menjadikan ingatan sejarah tersebut sebagai sumber semangat bagi masyarakat untuk membangun kekompakan, kepemimpinan, kepedulian, serta keberlanjutan kebudayaan di Blega.

Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Blega, Ivanka Ramadhan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan momentum untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat melalui kebudayaan dan kesenian.

“Ini adalah momentum untuk menyatukan masyarakat Blega dan meramu budaya serta kesenian yang ada di Blega,” ujar Ivanka dalam sambutannya.

Menurutnya, istilah Aracok dimaknai sebagai bentuk selamatan atau ungkapan rasa syukur terhadap keberadaan kebudayaan yang masih dipertahankan oleh masyarakat.

Aracok Budhaja Blega, aracok adalah menyelamati atau buah tanda kita mensyukuri atas kebudayaan-kebudayaan yang ada di Blega yang masih terjaga, dijaga dan seterusnya dirawat,” tambahnya.

Festival tersebut dikemas melalui sejumlah rangkaian kegiatan, antara lain fashion show, musik Daul, pertunjukan kesenian, serta bazar UMKM.

Keterlibatan pelaku UMKM menjadi salah satu bentuk kolaborasi ekonomi masyarakat. Sementara pertunjukan seni dan musik menjadi medium untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

Kepala Puskesmas Blega, Siti Safitri Mulita Akhmad, turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

Menurutnya, Aracok Budhaja memiliki nilai edukasi karena masyarakat tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga diajak kembali mengenal sejarah dan kebudayaan daerahnya.

“Aracok Budhaja ini tak hanya sekadar menjadi hiburan belaka untuk masyarakat Blega dan sekitarnya, tetapi edukasi budaya, edukasi kesenian. Untuk merapal kembali ingatan tentang Blega yang sakral dan penuh akan sejarah,” ujarnya.

Pesan tentang kebudayaan dan sejarah juga ditampilkan melalui fashion show. Sejumlah peserta menghadirkan kostum yang mengandung simbol keberanian, kepemimpinan, kebebasan, hingga kepedulian terhadap lingkungan.

Salah satunya adalah penampilan Sekar Macan Putih. Sosok macan putih dimaknai sebagai simbol keberanian dan ditampilkan melalui bentuk kepala macan.

Penampilan tersebut tidak sekadar menjadi pertunjukan visual, tetapi juga menjadi upaya untuk menghidupkan kembali simbol budaya yang telah lama berada dalam ingatan masyarakat Blega.

Peserta dari SDN Blega 3 turut menampilkan kostum putri penjaga keindahan alam. Kostum tersebut dilengkapi sayap yang menjadi simbol kebebasan dan keberanian untuk memiliki cita-cita tinggi.

Kreativitas peserta juga terlihat dari pemanfaatan barang bekas sebagai bahan utama pembuatan kostum. Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa limbah dapat diolah menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan edukatif.

Penampilan lainnya menghadirkan sosok raja penjaga bumi. Kostum tersebut menggambarkan seorang raja muda dengan mahkota sebagai simbol kepemimpinan, rompi sebagai perlambang perlindungan, serta jubah yang merepresentasikan tanggung jawab seorang pemimpin.

Selain fashion show, musik Daul turut menjadi bagian penting dalam rangkaian acara. Tiga kelompok musik Daul yang berpartisipasi, yakni K-Conk Angkara, Lendhu Alam, dan NBM Mekar Jaya, turut memeriahkan suasana festival.

Panitia memberikan apresiasi kepada para peserta fashion show maupun kelompok musik Daul yang telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Rangkaian acara juga diisi dengan pengundian doorprize bagi peserta dan undangan. Sejumlah hadiah disiapkan panitia, termasuk mesin cuci dan berbagai hadiah menarik lainnya.

Festival Aracok Budhaja menjadi salah satu upaya masyarakat dan generasi muda Blega untuk memperkuat kembali hubungan antara sejarah, kebudayaan, kesenian, dan kehidupan masyarakat.

Kegiatan semacam ini dinilai memiliki potensi untuk menjadi agenda kebudayaan tahunan di Kecamatan Blega dengan melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, pelaku seni, pelaku UMKM, lembaga pendidikan, pemerintah, serta komunitas pemuda.

Namun, keberlanjutan kegiatan juga membutuhkan evaluasi dari sisi penyelenggaraan. Pengelolaan acara, koordinasi antarpihak, ketertiban pelaksanaan, hingga penyusunan rangkaian kegiatan perlu terus diperbaiki agar pelaksanaan festival pada tahun-tahun berikutnya semakin efektif dan terarah.

Sebab, kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, melainkan bagian dari identitas masyarakat yang perlu dirawat dan dikembangkan sesuai perkembangan zaman.

Melalui Aracok Budhaja, ingatan tentang Blega tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Ingatan tersebut diharapkan dapat menjadi energi bagi generasi muda untuk mengenal akar budayanya, memperkuat persatuan, serta mengambil peran dalam menentukan masa depan Blega.

 

Penulis : Muhari AS

Tinggalkan Balasan