Regional

Bukan Sekadar Tarian! Menguak Sejarah dan Ritual Sakral Tari Topeng Patenteng di Madura

15
×

Bukan Sekadar Tarian! Menguak Sejarah dan Ritual Sakral Tari Topeng Patenteng di Madura

Sebarkan artikel ini

BANGKALAN,HARIANNEWS.ID – Dosen dan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Patenteng, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Program pendampingan yang berlangsung selama satu semester atau enam bulan tersebut difokuskan pada pelestarian Tari Topeng Patenteng, kesenian tradisional yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat setempat dan dinilai mulai ditinggalkan.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberadaan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam merawat kesenian tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Melalui pendampingan tersebut, tim pengabdian berharap Tari Topeng Patenteng tidak hanya bertahan sebagai pertunjukan seremonial, tetapi juga tetap dikenal, dipahami, dan dipelajari oleh generasi muda.

Munir, salah satu pihak yang terlibat dalam pelestarian Tari Topeng Patenteng, menjelaskan bahwa kesenian tersebut bukan sekadar tarian yang dibawakan dengan menggunakan topeng. Di dalamnya terdapat lima penari dengan karakter dan struktur gerakan yang berbeda.

“Jadi ada Panji Lakek (laki-laki) dan Panji Binek (perempuan), butho, serta sepasang punakawan. Semuanya memiliki struktur tarian masing-masing. Itu yang saat ini sedang kami jaga agar tarian ini memiliki karakter dan tidak asal menari,” ujar Munir, Jumat (9/10/2026).

Menurutnya, setiap karakter memiliki ciri khas gerakan tersendiri yang menjadi bagian penting dari identitas Tari Topeng Patenteng. Karena itu, pelestarian tidak cukup hanya dengan menggelar pertunjukan, tetapi juga perlu disertai upaya menjaga pakem, karakter, dan makna yang terkandung di dalamnya.

Selain melibatkan lima penari, pertunjukan Tari Topeng Patenteng diiringi musik tradisional khas Bangkalan yang dikenal dengan sebutan musik dhuk-dhuk. Iringan musik tersebut menjadi unsur penting dalam membangun suasana sekaligus mempertahankan ciri khas pertunjukan.

Tari Topeng Patenteng juga memiliki keterkaitan dengan tradisi masyarakat setempat pada masa lalu. Kesenian ini dikenal sebagai bagian dari ritual yang dilaksanakan ketika musim kemarau, khususnya untuk memohon turunnya hujan kepada Tuhan.

Munir menuturkan, pengalaman saat dua kali pagelaran Tari Topeng Patenteng yang kemudian disertai hujan deras menjadi cerita tersendiri bagi pihak yang terlibat dalam pelestarian kesenian tersebut.

“Kami dua kali melakukan pagelaran Topeng Patenteng selalu hujan deras. Mungkin orang yang menciptakan dulu bertirakat kepada Allah meminta hujan sehingga munajatnya dikabulkan,” tuturnya.

Pengalaman tersebut merupakan keyakinan dan penafsiran yang berkembang di kalangan pelaku tradisi. Nilai spiritualnya menjadi bagian dari cerita yang menyertai kesenian tersebut dan perlu dipahami dalam konteks kepercayaan masyarakat setempat.

Sementara itu, sejarawan Hidrochin Sabarudin menjelaskan bahwa pada zaman dahulu Tari Topeng Patenteng dipentaskan di sekitar sumber mata air ketika musim kemarau.

Menurutnya, pertunjukan tersebut tidak hanya diiringi musik dhuk-dhuk, tetapi juga melibatkan prosesi pengambilan air dari dua sumber mata air yang kemudian dipertemukan. Prosesi tersebut mengandung harapan agar ketersediaan air tetap terjaga dan sumber mata air tidak mengering selama musim kemarau.

“Jadi zaman dahulu itu, dalam Tari Topeng Patenteng tidak hanya diiringi musik dhuk-dhuk, tetapi juga ada prosesi pengambilan air dari dua sumber dan dikawinkan. Harapannya agar air tetap banyak dan tidak mengering saat kemarau,” jelas Hidrochin.

Ia menambahkan, Tari Topeng Patenteng juga memiliki dimensi sejarah dan keagamaan. Menurut penuturannya, kesenian tersebut pernah dimanfaatkan sebagai media syiar Islam oleh Pangeran Arya Kusuma yang berasal dari Sampang.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa Tari Topeng Patenteng tidak hanya memiliki nilai seni pertunjukan, tetapi juga berkaitan dengan tradisi ritual, sejarah lokal, dan perjalanan penyebaran Islam di Madura.

Ketua Pelaksana Program Inovasi Seni Nusantara BIMA Kemendiktisaintek 2026, Parrisca Indra Perdana, menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme masyarakat dan tim pendamping dalam menjaga keberlangsungan Tari Topeng Patenteng.

Akademisi yang juga merupakan pembina UKM Seni Nanggala tersebut menilai, pelestarian kesenian tradisional harus dilakukan secara berkelanjutan agar tidak berhenti pada satu kali penampilan.

“Tari Patenteng ini tidak hanya sebagai ritual tarian di desa saja, tetapi diharapkan semakin dikenal dan semakin lestari. Tidak berhenti di penampilan hari ini saja, tetapi bisa mencoba untuk belajar sejarahnya, ceritanya, topengnya, dan mengapa ritualnya seperti itu. Sehingga orang-orang sekitar bisa mengerti sekaligus ikut ambil bagian dalam menjaga budaya lokal,” ungkap Parrisca.

Ia berharap program pendampingan dapat membuka ruang pembelajaran bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengenal lebih dalam sejarah, filosofi, karakter tokoh, bentuk topeng, serta makna ritual yang melekat pada kesenian tersebut.

Dengan demikian, pelestarian Tari Topeng Patenteng dapat dilakukan secara menyeluruh, baik melalui praktik pertunjukan maupun dokumentasi dan pengenalan sejarahnya kepada masyarakat luas.

Upaya pelestarian Tari Topeng Patenteng juga didukung oleh masyarakat yang masih menyimpan benda-benda peninggalan kesenian tersebut.

Muhammad Hosen, salah satu warga Desa Patenteng, mengatakan bahwa Tari Topeng Patenteng hingga kini masih dipentaskan di desanya. Berdasarkan tradisi yang diketahuinya, tarian tersebut biasanya digelar sebanyak tiga kali menjelang berakhirnya musim kemarau.

Hosen juga menyimpan topeng asli yang diwariskan secara turun-temurun dari neneknya. Selain menjadi bagian dari keluarga yang menjaga benda peninggalan tersebut, ia pernah terlibat langsung sebagai penabuh musik dhuk-dhuk yang mengiringi pertunjukan Tari Topeng Patenteng.

Keberadaan topeng warisan dan pengalaman para pelaku seni menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesinambungan tradisi. Pengetahuan yang dimiliki warga dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi penerus agar kesenian tersebut tidak kehilangan identitasnya.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo Madura, Bangun Sentosa, turut menghadiri kegiatan tersebut. Dalam kesempatan itu, ia memberikan dukungan berupa perlengkapan Tari Topeng Patenteng, termasuk topeng dan pakaian tari.

Bangun berharap program pengabdian kepada masyarakat tersebut dapat memberikan motivasi bagi warga Desa Patenteng untuk terus menjaga dan mengembangkan kebudayaan yang diwariskan oleh para leluhur.

“Pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan mampu memberikan motivasi agar masyarakat Desa Patenteng terus menjaga nilai kebudayaan dan kesenian yang ditinggalkan oleh nenek moyangnya. Hal ini bagian dari menjaga kecintaan terhadap tanah tempat kita dilahirkan,” ungkapnya.

Ia meyakini bahwa kesenian dan kebudayaan yang diwariskan para leluhur mengandung nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Dukungan akademisi, pendampingan mahasiswa, serta keterlibatan masyarakat diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian Tari Topeng Patenteng. Kolaborasi tersebut menjadi langkah penting agar kesenian tradisional tidak sekadar menjadi peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Melalui program pendampingan selama enam bulan ini, Tari Topeng Patenteng diharapkan semakin dikenal luas, memiliki regenerasi pelaku seni, serta tetap terjaga karakter dan nilai budayanya sebagai bagian dari kekayaan tradisi masyarakat Madura.

(Muhari)

Tinggalkan Balasan